stiqmuibinjai.or.id-Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Binjai, Prof. Dr. H.M. Jamil Siahaan, M.A., mengingatkan para alim ulama agar mampu beradaptasi dan tetap istiqamah dalam menjawab dinamika dan tantangan dakwah yang semakin kompleks.
Hal ini disampaikannya di hadapan unsur pengurus MUI Kota Binjai, para alumni dan mahasiswa Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) MUI Kota Binjai, serta para tokoh cendekiawan Muslim, dalam Muzakarah Akbar Isra Miraj Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam, yang diselenggarakan Ikatan Alumni PTKU MUI Kota Binjai (IAPMB) di Musala Islamic Centre Gedung PTKU MUI Kota Binjai, pada Jumat (16/1) malam.
“Ada tiga visi atau risalah Rasulullah dalam berdakwah yang harus kita teladani sebagai Al-Ulama, yaitu perbaikan, ilmu pengetahuan, dan kemajuan,” ungkap Jamil, yang tampil sebagai salah satu narasumber dalam acara bertema “Menguatkan Iman di Tengah Tantangan Zaman dengan Meneladani Keteguhan Hati Rasulullah”.
Diakui mantan Ketua MUI Kota Binjai tersebut, Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam selama 23 tahun berdakwah juga menghadapi berbagai dinamika dan tantangan yang sangat berat.
Namun dengan kesabaran, keteguhan hati, istiqamah dalam melakukan syiar Islam, serta adanya motivasi dan dukungan yang besar dari keluarga dan para sahabat, beliau justru mampu mengubah jazirah Arab yang sebelumnya daerah dengan peradaban terbelakang justru dapat berkembang menjadi daerah yang maju.
“Ada tiga kunci utama bagi kita untuk tetap istiqamah berdakwah di tengah berbagai dinamika dan tantangan perkembangan zaman. Pertama, ikhlas. Kedua, kita harus memiliki teman yang membuat kita tetap semangat dan termotivasi dalam berdakwah. Lalu ketiga, maksimalkan pemanfaatan teknologi digital,” seru Jamil.
Sebelumnya, Ketua MUI Kota Binjai, H. Rizaldi Syarifuddin Nasution, S.Pd.I. M.M., menyatakan, Isra Miraj Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam sebagai peristiwa yang tidak dapat dijelaskan oleh nalar dan logika manusia.
Di sisi lain, sambung Rizaldi, peristiwa isra miraj bukan hanya dimaknai sebagai sebuah momentum yang mengawali perintah salat lima waktu, tetapi juga momentum Allah Subhanahu Wa Taala menjawab kesabaran dan keteguhan sosok Rasulullah untuk tetap istiqamah dalam berdakwah.
Sebab menurutnya, sebelum terjadinya peristiwa isra miraj, Rasulullah menghadapi masa-masa sulit, menyusul wafatnya dua sosok penting yang selama ini mendukung penuh perjuangan Rasulullah untuk melakukan syiar Islam, yakni Abu Thalib, sang paman, dan Siti Khadijah, sang istri.
Beruntung bagi Nabi Muhammad, Allah Subhanahu Wa Taala pada akhirnya memberikan hadiah istimewa melalui peristiwa isra wal miraj.
“Peristiwa isra miraj Rasulullah harus kita jadikan pembelajaran untuk tetap istiqamah. Biar zaman berubah, biar tantangan semakin kompleks, tapi ingat, ahlaq kita jangan sampai berubah, ketaatan kita jangan ikut berubah, keimanan kita tidak boleh hilang, dan semangat kita untuk berdakwah jangan sampai padam,” ujar Rizaldi.









